Saat ini, badanku sudah renta, bukan lagi badanku yang dulu - badan kuat Ayah kebanggaanmu, yg bahu dan lehernya menjadi tumpuanmu. maklumilah diriku. Tetaplah bersabar menghadapi ketidakmampuanku yang semakin banyak.
Saat
ini, engkau mulai menyaksikan pemandangan yang kotor dihadapanmu
karenaku. Bahkan, baru saja air liurku terjatu tercecer dilantai dan
telah menodai sepatumu. Maklumilah diriku. ingatlah saat kau mengajakku
bermain di pagi hari, muntah dan mengotori pakain kerjaku.
Saat ini aku sering mengulang-ulang terus ucapanku hingga membuatmu bosan. Bersabarlah ingatlah dimasa engkau meminta aku membaca setiap cerita dongeng yg ku ulang-ulang untuk mengantar tidur dan mimpi indahmu.
Saat ini aku membutuhkanmu untuk mengelap dan membersihkan tubuhku. Lakukanlah dengan senang hati. Ingatlah bagaimana susahnya membujukmu, berhenti bermain agar aku bisa memandikanmu.
Saat
ini aku telah melakukan kesalahan dengan menggunakan bajuku terbalik,
bahkan sepat terlihat oleh tamumu, saat aku melintas di ruang tamu.Perbaikilah, Ingatlah setiap ingin bermain diluar rumah, engkau berkali-kali memasang terbalik sepatumu dan aku selalu membenahinya untukmu.
Saat ini aku sering bingung dan tidak lagi dapat menjangkau pembicaraanmu. jangalah merendahkanku. Ingatlah cara-cara yang kulakukan untuk menjawab setiap pertanyaan ''Mengapa'' yang selalu kau ajukan saat itu.
Saat
ini,kita berjalan bersama, namun aku tidak mampu mengimbangi kecepatan
langkahmu. Tetaplah disampingku,beriringanlah denganku, dan ulurkanlah
tanganmu. Ingatlah bagaimana engkau belajar berjalan saat itu.
Saat
ini, aku sering lupa berbagai peringatan mu, termasuk menggunakan
sendok garpu di tanganku. Janganlah bosan mengingatkanku atau mungkin
melakukan untukku.Ingatlah pada masa kecilmu saat engkau belajar
menggunakan sendok,garpu,piring,dan gelas.
Saat ini, aku
sering mengajakmu duduk bercerita di belakang rumah, dekat kandang ayam
kita.Namun aku tidak mudah lagi mencerna setiap maksud pembicaraanmu,
apalagi tentang pekerjaanmu. Janganlah bosan, perlu engkau tahu,
sebenarnya topik pembicaraanmu bukan lagi hal penting bagiku. Asal kau
ada disisiku itulah kerinduanku.
Saat ini, mungkin aku
seolah-olah tidak menghargai usahamu yang membelikanku makanan
kesukaanku,karena tidak lebih dari dua sendok makanan yang melewati
tenggorokanku. Bersabarlah.Ingatlah ketika setiap aku menyuapimu
makan,setiap kali pula engkau mencoba memuntahkan makanan itu, sebelum
masuk ke perutmu.
Saat ini, bukan lagi seperti dulu ketika
aku selalu ada untuk mengajarimu. Aku menua dengan segala kekurangan
fisik dan fikiranku. Janganlah bersedih.Tetaplah bersuka cita, seperti suka citaku di masa kecilmu.Bagaimanapun masa kecilmu telah menjadi inspirasi,kekuatan,serta penghibur bagiku. Satu hal yang engkau harus tahu......jiwaku tetap seperti dulu, elalu bersorak -sorai,ber hip-hip hura ketika bersamamu.
Nanti jika aku pergi menghadap Yang ESA, aku akan merepotkanmu lagi dengan segala urusan yang berhubungan denganku dan engkau akan menumpahkan air matamu.Jangan terlalu menangisiku.IKlaskanlah
kepergianku dan genapilah suka citaku.Lakukanlah segala sesuatu untuk
pemberangkatanku dengan senang hati. Ingatlah aku sudah ada gantinya di
dunia ini, dirimu, anakku....
Seorang
anak tidak pernah memilih untuk dilahirkan,dan orangtua tidak memilih
untuk mengalami masa TUA dan RENTA. Namun semua itu adalah masa2 indah
buatku Dan Semoga juga selalu indah bagimu.... AMIN
AYAHMU
ImNotMetal
Thursday, March 20, 2014
Pesan Bapak Untuk Anaknya
repost dari: http://kask.us/hzfGR
Seorang pemuda duduk di hadapan laptopnya. Login facebook. Pertama kali yang dia cek adalah inbox.
Hari ini terlihat sesuatu yang tidak dia perdulikan selama ini. Bagian ‘OTHER’ di inboxnya, ada dua pesan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua, dia membukanya. Ternyata ada pesan dari 5 bulan yang lalu.
Dia baca isinya:
“Salam.
Ini kali pertama abah mencoba menggunakan facebook. Abah coba tambah kamu sebagai teman tapi tidak bisa. Abah juga tidak terlalu paham benda ini. Abah coba kirim pesan ini kepada kamu.
Maaf, abah tidak pandai mengetik. Ini pun kawan abah yang mengajarkan.
Ingatkah saat pertama kali kamu punya HP? Saat itu kamu kelas 4 MI. Abah kasian semua anak-anak sekarang punya HP. Jadi, abah hadiahkan pada kamu satu. Dengan harapan kamu akan telpon abah kalau kamu mau cerita tentang masalah asrama, sekolah atau apa-apa saja.
Tapi, kamu hanya telpon abah seminggu sekali. Tanya tentang uang makan dan jajan. Abah berpikir juga, isi ulang pulsa 100 ribu tapi telpon abah tidak sampai 5 menit. Sudah habiskah pulsanya?
Saat kamu kecil dulu, abah masih ingat pertama kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik panggil, ‘Abah, abah, abah’. Abah Bahagia sekali anak lelaki abah panggil abah. Panggil Umi.
Abah senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin tidak ingat dan tidak paham apa yang abah ucapkan di umur kamu 4 atau 5 tahun. Tapi, percayalah. Abah dan Umi bicara dengan kamu banyak sekali. Kamulah penghibur kami di saat kami berduka. Walaupun hanya dengan gelak tawamu.
Saat kamu masuk MI. Abah ingat kamu selalu bercerita dengan abah ketika membonceng motor dengan abah setiap pergi dan pulang sekolah. Banyak yang kamu ceritakan pada abah. Tentang ibu guru, sekolah, teman-teman.
Abah jadi makin bersemangat bekerja keras mencari uang untuk biaya kamu ke sekolah. Sebab kamu lucu sekali. Menyenangkan.
Ayah mana yang tidak gembira kalau anaknya suka ke sekolah untuk belajar.
Ketika kamu masuk MTs. Kamu mulai punya kawan-kawan baru. Kamu pulang dari sekolah, kamu langsung masuk kamar.
Kamu keluar pas waktu makan saja. Kamu keluar rumah dengan kawan-kawanmu.
Kamu mulai jarang bercerita dengan abah.
Kamu pandai. Akhirnya masuk asrama di Aliyah. Di asrama, jarak antara kita makin jauh. Kamu mencari kami saat perlu. Kamu biarkan kami saat tidak perlu.
Abah tahu, naluri remaja. Abah pun pernah muda. Akhirnya, abah tahu kalau ternyata kamu menyukai seorang gadis.
Ketika masuk kuliah, sikap kamu sama saja dengan ketika di Aliyah. Jarang hubungi kami. Sewaktu pulang liburan, kamu sibuk dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan internet kamu, dengan dunia kamu.
Abah bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah kawan istimewa itu lebih penting dari Abah dan Umi? Adakah Abah dan Umi cuma diperlukan saat kamu mau nikah saja sebagai pemberi restu? Adakah kami ibarat tabungan kamu saja?
Akhirnya, kamu jarang berbicara dengan abah lagi. Kalau pun bicara, dengan jari-jemari. Berjumpa tapi tak berkata-kata. Berbicara tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu hari raya. Tanya sepatah kata, dijawab sepatah kata. Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, kamu tak cuti kemari lagi.
Malam ini, abah sebenarnya rindu sekali pada kamu.
Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu. Cuma abah sudah terlalu tua. Abah sudah di penghujung usia 60 an. Kekuatan abah tidak sekuat dulu lagi.
Abah tidak minta banyak…
Kadang-kadang, abah cuma mau kamu berada di sisi abah.
Berbicara tentang hidup kamu. Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati kamu.
Menangis pada abah. Mengadu pada abah.
Bercerita pada abah seperti saat kamu kecil dulu.
Apapun. Maafkan abah atas curhat abah ini.
Jagalah solat. Jagalah hati. Jagalah iman.
Mungkin kamu tidak punya waktu berbicara dengan abah. Namun, jangan sampai kamu tidak punya waktu berbicara dengan Allah.
Jangan letakkan cinta di hati pada seseorang melebihi cinta kepada Allah.
Mungkin kamu mengabaikan abah. Namun jangan kamu mengabaikan Allah.
Maafkan abah atas segalanya.”
Pemuda meneteskan air mata. Dalam hati perih tidak terkira. Bagaimana tidak, tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3 bulan beliau pergi untuk selama-lamanya.
Saudaraku, hargailah orang tua ketika mereka masih hidup... kadang kala kita terlalu sibuk bekerja, sekolah, kuliah, bahkan berpacaran, bertunangan, mengejar-ngejar lawan jenis yang kita sukai
Sampai kita lupa akan dia yang telah membesarkan kita
Memberi kita pendidikan untuk bekerja
Mengajari cara berjalan agar kita bisa hidup, beraktivitas
Jangan sampai anak kita nanti melupakan kita seperti kita melupakan orang tua kita...
Seorang pemuda duduk di hadapan laptopnya. Login facebook. Pertama kali yang dia cek adalah inbox.
Hari ini terlihat sesuatu yang tidak dia perdulikan selama ini. Bagian ‘OTHER’ di inboxnya, ada dua pesan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua, dia membukanya. Ternyata ada pesan dari 5 bulan yang lalu.
Dia baca isinya:
“Salam.
Ini kali pertama abah mencoba menggunakan facebook. Abah coba tambah kamu sebagai teman tapi tidak bisa. Abah juga tidak terlalu paham benda ini. Abah coba kirim pesan ini kepada kamu.
Maaf, abah tidak pandai mengetik. Ini pun kawan abah yang mengajarkan.
Ingatkah saat pertama kali kamu punya HP? Saat itu kamu kelas 4 MI. Abah kasian semua anak-anak sekarang punya HP. Jadi, abah hadiahkan pada kamu satu. Dengan harapan kamu akan telpon abah kalau kamu mau cerita tentang masalah asrama, sekolah atau apa-apa saja.
Tapi, kamu hanya telpon abah seminggu sekali. Tanya tentang uang makan dan jajan. Abah berpikir juga, isi ulang pulsa 100 ribu tapi telpon abah tidak sampai 5 menit. Sudah habiskah pulsanya?
Saat kamu kecil dulu, abah masih ingat pertama kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik panggil, ‘Abah, abah, abah’. Abah Bahagia sekali anak lelaki abah panggil abah. Panggil Umi.
Abah senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin tidak ingat dan tidak paham apa yang abah ucapkan di umur kamu 4 atau 5 tahun. Tapi, percayalah. Abah dan Umi bicara dengan kamu banyak sekali. Kamulah penghibur kami di saat kami berduka. Walaupun hanya dengan gelak tawamu.
Saat kamu masuk MI. Abah ingat kamu selalu bercerita dengan abah ketika membonceng motor dengan abah setiap pergi dan pulang sekolah. Banyak yang kamu ceritakan pada abah. Tentang ibu guru, sekolah, teman-teman.
Abah jadi makin bersemangat bekerja keras mencari uang untuk biaya kamu ke sekolah. Sebab kamu lucu sekali. Menyenangkan.
Ayah mana yang tidak gembira kalau anaknya suka ke sekolah untuk belajar.
Ketika kamu masuk MTs. Kamu mulai punya kawan-kawan baru. Kamu pulang dari sekolah, kamu langsung masuk kamar.
Kamu keluar pas waktu makan saja. Kamu keluar rumah dengan kawan-kawanmu.
Kamu mulai jarang bercerita dengan abah.
Kamu pandai. Akhirnya masuk asrama di Aliyah. Di asrama, jarak antara kita makin jauh. Kamu mencari kami saat perlu. Kamu biarkan kami saat tidak perlu.
Abah tahu, naluri remaja. Abah pun pernah muda. Akhirnya, abah tahu kalau ternyata kamu menyukai seorang gadis.
Ketika masuk kuliah, sikap kamu sama saja dengan ketika di Aliyah. Jarang hubungi kami. Sewaktu pulang liburan, kamu sibuk dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan internet kamu, dengan dunia kamu.
Abah bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah kawan istimewa itu lebih penting dari Abah dan Umi? Adakah Abah dan Umi cuma diperlukan saat kamu mau nikah saja sebagai pemberi restu? Adakah kami ibarat tabungan kamu saja?
Akhirnya, kamu jarang berbicara dengan abah lagi. Kalau pun bicara, dengan jari-jemari. Berjumpa tapi tak berkata-kata. Berbicara tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu hari raya. Tanya sepatah kata, dijawab sepatah kata. Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, kamu tak cuti kemari lagi.
Malam ini, abah sebenarnya rindu sekali pada kamu.
Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu. Cuma abah sudah terlalu tua. Abah sudah di penghujung usia 60 an. Kekuatan abah tidak sekuat dulu lagi.
Abah tidak minta banyak…
Kadang-kadang, abah cuma mau kamu berada di sisi abah.
Berbicara tentang hidup kamu. Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati kamu.
Menangis pada abah. Mengadu pada abah.
Bercerita pada abah seperti saat kamu kecil dulu.
Apapun. Maafkan abah atas curhat abah ini.
Jagalah solat. Jagalah hati. Jagalah iman.
Mungkin kamu tidak punya waktu berbicara dengan abah. Namun, jangan sampai kamu tidak punya waktu berbicara dengan Allah.
Jangan letakkan cinta di hati pada seseorang melebihi cinta kepada Allah.
Mungkin kamu mengabaikan abah. Namun jangan kamu mengabaikan Allah.
Maafkan abah atas segalanya.”
Pemuda meneteskan air mata. Dalam hati perih tidak terkira. Bagaimana tidak, tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3 bulan beliau pergi untuk selama-lamanya.
Saudaraku, hargailah orang tua ketika mereka masih hidup... kadang kala kita terlalu sibuk bekerja, sekolah, kuliah, bahkan berpacaran, bertunangan, mengejar-ngejar lawan jenis yang kita sukai
Sampai kita lupa akan dia yang telah membesarkan kita
Memberi kita pendidikan untuk bekerja
Mengajari cara berjalan agar kita bisa hidup, beraktivitas
Jangan sampai anak kita nanti melupakan kita seperti kita melupakan orang tua kita...
Subscribe to:
Posts (Atom)